dip
Belikan Kopi
Months 3 To 12

Izin untuk menginginkan sesuatu lagi

By the dip team · 9 menit baca

Izin untuk menginginkan sesuatu lagi

Tahap 2 · Bulan 3 sampai 12 · Artikel 30 · Wave 2


Tahap 2 tidak cuma menuntut kamu melakukan hal-hal baru. Ia menuntut kamu mengizinkan diri sendiri untuk menginginkannya. Bagi banyak orang tua, bagian kedua ini lebih sulit daripada yang pertama.

Artikel ini membahas beda antara kemampuan untuk menginginkan dan izin untuk menginginkan, kenapa izin itu tersumbat khususnya pada orang tua yang baru keluar dari pernikahan panjang, enam penghambat yang umum dan cara mengenalinya, lima latihan yang memulihkan izin itu, dan apa yang bisa kamu lakukan saat keinginan saling bertabrakan atau bertabrakan dengan tanggung jawabmu.

Kemampuan versus izin

Ada dua hal berbeda yang sedang terjadi di penghujung Tahap 1 dan awal Tahap 2.

Kemampuan untuk menginginkan, yaitu neurokimianya, sirkuit kesenangan, sistem selera, kepekaan terhadap apa yang kamu sukai, kembali kira-kira antara bulan ketiga dan ketujuh. (Lihat Artikel 21, 22, dan 63.) Ini berlangsung otomatis; ia terjadi entah kamu mengusahakannya atau tidak.

Izin untuk menginginkan, yaitu rasa di dalam diri bahwa menginginkan itu boleh, bahwa bertindak atas keinginan itu bisa diterima, bahwa mengejar hal-hal yang kamu inginkan itu wajar, tidak kembali otomatis. Bagi banyak orang tua, ia harus dibangun ulang dengan sengaja.

Kemampuan tanpa izin menghasilkan keadaan yang menjengkelkan: kamu bisa merasakan satu keinginan dengan jelas, bahkan kuat, lalu langsung menekannya. Kamu menyaksikan dirimu nyaris melakukan sesuatu, lalu tidak jadi. Keinginannya ada. Izinnya tidak.

Sebagian besar kerja membangun ulang diri di Tahap 2 adalah memulihkan izin itu. Kemampuannya baik-baik saja dengan sendirinya.

Kenapa izin tersumbat dalam pernikahan panjang

Ada enam pola dari pernikahan panjang yang cenderung menekan izin secara khusus. Kebanyakan orang tua mengenali tiga atau empat di antaranya.

Pola 1: Negosiasi sebelum waktunya

Dalam hubungan yang panjang, sebagian besar keinginan dinegosiasikan dulu sebelum dijalankan. Kita mampu nggak ya? Ini cocok nggak buat kita berdua? Ini bakal bikin gesekan nggak? Negosiasi itu jadi otomatis.

Setelah berpisah, negosiasi itu tidak punya lawan bicara lagi. Tapi kebiasaannya tetap ada. Kamu memunculkan satu keinginan, langsung menjalankan negosiasi melawan pasangan khayalan, dan keinginan itu jadi diubah atau dibatalkan.

Pola 2: Bertahan sebelum diserang

Kalau dalam pernikahan ada pasangan yang gemar mengkritik atau meragukan, mungkin kamu sudah belajar mengantisipasi kritik atas keinginanmu bahkan sebelum keinginan itu muncul. Dia bakal mikir ini konyol. Dia bakal memutar bola mata. Dia bakal nanya apa aku benar-benar butuh ini.

Setelah berpisah, sang pengkritik sudah tidak ada lagi. Antisipasinya masih ada. Keinginan itu sudah dibela duluan bahkan sebelum sempat dirumuskan.

Pola 3: Kebiasaan menekan saat konflik

Dalam pernikahan yang sulit di penghujungnya, mungkin kamu sudah belajar menekan keinginan selama masa-masa konflik demi mengurangi gesekan. Penekanan itu strategis; ia menjaga ketenangan.

Setelah berpisah, tidak ada lagi konflik yang perlu disiasati. Tapi kebiasaan masa perang itu jalan terus. Keinginan terasa berbahaya untuk diutarakan padahal tidak akan ada bahaya apa pun.

Pola 4: Membingkai keinginan sebagai soal moral

Sebagian pernikahan, dan sebagian pola asuh, membingkai menginginkan sesuatu sebagai sikap egois. Menginginkan dibingkai sebagai lawan dari menjadi pasangan yang baik atau orang tua yang baik. Menginginkan waktu sendiri, selera sendiri, kesukaan sendiri dikaitkan dengan mengecewakan orang lain.

Setelah berpisah, bingkai ini memunculkan rasa bersalah bahkan untuk keinginan-keinginan kecil. Keinginan itu terasa seperti kegagalan bersikap murah hati sebelum sempat dinilai berdasarkan isinya yang sebenarnya.

Pola 5: Menyatu dengan pengorbanan

Sebagian orang tua memperoleh identitas dari menjadi pihak yang berkorban. Pengorbanan itu sendiri menjadi bagian dari bagaimana kamu memahami dirimu. Menginginkan sesuatu merumitkan identitas ini.

Kalau selama ini kamu jadi orang tua yang merelakan banyak hal demi anak-anak, pasangan yang menanggung beban demi hubungan, anggota keluarga yang mengurus apa yang orang lain enggan kerjakan, hidup setelah berpisah menantang identitas ini dengan menghapus struktur yang dulu menghasilkan pengorbanan-pengorbanan itu. Menginginkan terasa seperti mengkhianati diri yang dulu kamu kenal.

Pola 6: Mengantisipasi hukuman

Kalau dalam pernikahan ada konsekuensi setiap kali kamu menegaskan keinginan, entah hukuman terang-terangan, sikap menjauh, eskalasi, atau kerumitan, kamu sudah terkondisi untuk menanti konsekuensi setiap kali menginginkan sesuatu. Pengondisian itu ada di tingkat tubuh, bukan cuma di pikiran.

Setelah berpisah, infrastruktur hukuman itu sudah hilang, tapi tubuh masih menantinya. Keinginan memicu refleks mengernyit yang muncul lebih dulu. Kernyitan itu berubah menjadi penekanan.

Cara mengenali pola mana yang sedang bekerja

Setiap pola punya tanda yang bisa dikenali saat kamu melambat untuk memperhatikan.

  • Negosiasi sebelum waktunya: suara di dalam yang menjalankan aku mampu nggak ya / ini cocok nggak sebelum kamu selesai menyadari keinginan itu.
  • Bertahan sebelum diserang: suara di dalam yang menjalankan dia bakal mikir ini konyol tentang keinginan yang tidak akan diketahui siapa pun.
  • Kebiasaan menekan saat konflik: keinginan terasa berbahaya untuk diutarakan padahal tidak ada bahaya apa pun.
  • Membingkai sebagai soal moral: rasa bersalah datang lebih dulu daripada kesenangan, saat kamu membayangkan bertindak atas keinginan itu.
  • Menyatu dengan pengorbanan: keinginan terasa seperti pengkhianatan terhadap dirimu selama ini.
  • Mengantisipasi hukuman: tubuh sedikit mengernyit saat keinginan itu datang.

Kebanyakan orang tua akan mengenali tiga atau empat dari pola ini. Pengenalan itulah langkah pertama untuk melucutinya.

Lima latihan yang memulihkan izin

Inilah latihan yang, kalau diterapkan sepanjang Tahap 2, membangun ulang izin. Ini bukan kata-kata afirmasi. Ini tindakan-tindakan kecil yang diulang.

Latihan 1: Keinginan kecil, dijalankan dalam 48 jam

Izin dibangun ulang lewat bukti, bukan lewat keyakinan. Cara paling bisa diandalkan untuk menghasilkan bukti adalah bertindak atas keinginan kecil, cukup kecil supaya tidak memicu seluruh mekanisme penekanan, dalam waktu 48 jam setelah kamu menyadarinya.

Mug yang beda. Sebuah buku yang dibeli karena tergerak saat itu juga. Satu hidangan di tempat yang sudah lama membuatmu penasaran. Satu lagu yang diputar keras-keras. Satu sore untuk libur.

Setiap keinginan kecil yang kamu jalankan adalah satu setoran izin. Sepanjang minggu-minggu, setoran itu menumpuk. Sistemnya memperbarui dirinya: menginginkan dan melakukan tidak menghasilkan malapetaka; berarti menginginkan dan melakukan itu boleh.

Latihan 2: Menamai penghambat saat ia menyala

Saat kamu sadar sedang menekan satu keinginan, sebutkan pola mana di antara yang enam itu yang sedang melakukannya. Ini negosiasi sebelum waktunya atau ini antisipasi hukuman.

Menamai tidak langsung menghentikan penghambat itu. Tapi ia mengganggu sifat otomatisnya. Sepanjang minggu-minggu, penghambat yang sudah dinamai itu kehilangan daya.

Latihan 3: Bertindak melawan penghambat, bukan keinginan

Saat penghambat menyala, jangan lawan ia secara langsung. Bertindak melawan keinginan justru membuat keinginan terasa makin berbahaya. Sebaliknya, bertindaklah meski ada penghambat. Lakukan hal kecil itu. Sadari penghambatnya sedang menyala. Lakukan saja tetap. Penghambat itu mereda bukan lewat perdebatan, melainkan lewat pengalaman berulang kali diabaikan tanpa konsekuensi.

Latihan 4: Membedakan keinginanmu dari keinginan yang kamu serap

Sebagian dari apa yang kamu kira kamu inginkan sebenarnya adalah apa yang kamu pelajari untuk diinginkan selama pernikahan. Sebagian dari selera, kesukaan, dan pilihanmu dibentuk oleh apa yang dicontohkan atau dituntut oleh hubungan itu.

Satu latihan yang berguna: setiap beberapa minggu, tuliskan lima hal yang kamu inginkan sekarang. Lalu tanyakan: apakah kamu akan tetap menginginkan tiap hal itu seandainya tidak pernah ada yang bilang bahwa itulah yang seharusnya kamu inginkan? Jawabannya menunjukkan keinginan mana yang memang milikmu dan mana yang kamu serap.

Keinginan yang kamu serap tidak harus lenyap. Sebagian baik-baik saja. Tapi pembedaan ini penting untuk izin, karena keinginan serapan tidak memulihkan izin seperti yang dilakukan keinginan asli.

Latihan 5: Memperlakukan keinginan sebagai data, bukan proyek

Sebuah keinginan bukan komitmen. Menginginkan sesuatu tidak berarti kamu harus bertindak atasnya. Itu berarti kamu menyadari sesuatu tentang keadaanmu sekarang.

Memperlakukan keinginan sebagai data, yaitu potongan informasi tentang siapa dirimu sekarang, mengurangi tekanan pada tiap keinginan. Tekanan itulah yang membuat penekanan jadi lebih mungkin terjadi.

Kamu bisa menginginkan sesuatu, memutuskan untuk tidak bertindak atasnya untuk saat ini, dan tetap menyimpan keinginan itu sebagai informasi. Informasi itu tidak hilang saat kamu tidak bertindak atasnya. Ia menumpuk menjadi sebuah gambaran tentang siapa dirimu sekarang.

Saat keinginan bertabrakan dengan tanggung jawab

Ini sebuah kerumitan yang nyata. Sebagian keinginan bertabrakan dengan tanggung jawabmu kepada anak-anak, dengan dinamika bersama Co-Parent, dengan keuanganmu, atau dengan pekerjaanmu.

Beberapa prinsip untuk menanganinya.

Prinsip 1: Tanggung jawab tidak otomatis membatalkan keinginan

Adanya tabrakan tidak berarti keinginan itu salah atau harus ditekan. Tabrakan itu adalah informasi; ia memberi tahu kamu bahwa keinginan itu akan butuh dinegosiasikan dengan kenyataan.

Banyak orang tua setelah berpisah terlalu mengoreksi diri di sini: mereka memperlakukan setiap keinginan yang bertabrakan dengan tanggung jawab sebagai bukti bahwa keinginan itu seharusnya tidak muncul. Ini menghasilkan hidup yang sepenuhnya dibentuk oleh tanggung jawab, yang melahirkan rasa kesal, yang pada akhirnya tetap merusak tanggung jawab itu juga.

Prinsip 2: Ubah keinginannya, jangan hapus

Keinginan untuk bepergian sendirian yang bertabrakan dengan jadwal anak-anak tidak padam begitu saja. Ia dibentuk ulang menjadi versi yang lebih kecil (pergi akhir pekan saja, bukan dua minggu), atau ditunda (sampai mereka lebih besar), atau dipenuhi sebagian (jalan-jalan sehari).

Pengubahan menjaga keinginan tetap sebagai data sekaligus memadukannya dengan kenyataan. Penghapusan justru menekannya kembali ke dalam sistem, tempat ia cenderung muncul dengan cara yang kurang produktif.

Prinsip 3: Sebagian keinginan menyingkapkan tanggung jawab yang perlu ditata ulang

Kadang keinginannya bukan tidak masuk akal; tanggung jawabnya yang tertata keliru. Aku mau satu malam seminggu untuk diri sendiri bisa jadi menyingkapkan bahwa pengaturan pengasuhan anak saat ini sedang membebanimu secara berlebihan, bukan bahwa keinginan itu egois.

Keinginan bisa menjadi alat diagnosis yang berguna untuk menilai apakah hidupmu sekarang masih bisa dijalani jangka panjang. Pola keinginan yang terus-menerus terhambat oleh tanggung jawab mungkin sedang memberi tahu kamu bahwa tanggung jawab itu perlu dibagi ulang.

Prinsip 4: Jangan jadikan anak alasan untuk segalanya

Ada satu pola yang umum: menghambat keinginan dengan menyebut-nyebut anak padahal anak bukan alasan yang sebenarnya. Aku nggak bisa ngelakuin itu, anak-anak butuh aku. Sering kali ini benar. Kadang ini cara menyelamatkan muka untuk mengatakan aku takut menginginkan sesuatu.

Anak-anak memang punya kebutuhan yang nyata. Tapi mereka juga jadi penghambat yang praktis untuk keinginan yang sebetulnya tidak ada hubungannya dengan mereka. Jujurlah pada diri sendiri soal mana yang sedang terjadi.

Saat izin tetap tersumbat

Bagi sebagian orang tua, latihan-latihan dalam artikel ini tidak memulihkan izin dalam rentang waktu yang diharapkan. Menjelang bulan kesembilan atau kesepuluh, keinginan masih terus-menerus tertekan.

Beberapa kemungkinan.

1. Pernikahan itu lebih mengontrol daripada yang kamu akui. Hubungan yang mengontrol dalam jangka panjang menghasilkan kerusakan izin yang butuh lebih dari sekadar waktu dan tindakan kecil untuk dipulihkan. Kalau kamu menduga ini yang terjadi, seorang psikolog atau terapis yang terlatih menangani trauma (bukan sekadar terapi bicara umum) bisa menangani kerusakan yang mendasarinya.

2. Depresi sedang menyumbat akses ke kesukaanmu. Kalau keinginan tidak muncul, berbarengan dengan gejala depresi tingkat rendah lainnya (energi rendah, tidak ada yang dinantikan, suasana hati datar), ini mungkin depresi, bukan soal izin. Lihat Artikel 10, dan mulailah percakapan dengan dokter di Puskesmas atau dokter keluarga.

3. Dinamika dengan Co-Parent masih aktif. Kalau kamu masih rutin berkonflik dengan Co-Parent, energimu mengalir ke sana dan tidak ada sisa untuk memulihkan keinginan. Turunkan dulu suhu kontak dengan Co-Parent; izin biasanya kembali saat sistemmu punya ruang.

4. Kamu sebenarnya belum mengizinkan dirimu untuk berpisah. Sebagian orang tua di Tahap 2 masih memperlakukan perpisahan sebagai keadaan sementara, bahkan tanpa sadar. Selama kamu belum menerimanya sebagai hidupmu yang sebenarnya, izin untuk keinginan dalam hidup ini tidak akan pulih sepenuhnya.

Rujukan cepat

Kemampuan untuk menginginkan versus izin untuk menginginkan, dua hal yang berbeda. Kemampuan kembali otomatis. Izin harus dibangun ulang.

Enam penghambat dari pernikahan panjang:

  1. Negosiasi sebelum waktunya.
  2. Bertahan sebelum diserang.
  3. Kebiasaan menekan saat konflik.
  4. Membingkai keinginan sebagai soal moral.
  5. Menyatu dengan pengorbanan.
  6. Mengantisipasi hukuman.

Lima latihan yang memulihkan izin:

  1. Keinginan kecil dijalankan dalam 48 jam.
  2. Menamai penghambat saat ia menyala.
  3. Bertindak melawan penghambat, bukan keinginan.
  4. Membedakan keinginanmu dari keinginan serapan.
  5. Memperlakukan keinginan sebagai data, bukan proyek.

Menangani keinginan versus tanggung jawab:

  • Tabrakan tidak otomatis membatalkan keinginan.
  • Ubah, jangan hapus.
  • Sebagian keinginan menyingkapkan kebutuhan untuk menata ulang.
  • Jangan jadikan anak alasan untuk segalanya.

Saat izin tetap tersumbat di bulan 9 sampai 10:

  • Mungkin kerusakan dari pernikahan yang mengontrol (terapi berbasis pemahaman trauma).
  • Mungkin depresi (Artikel 10, dokter di Puskesmas).
  • Mungkin dinamika dengan Co-Parent yang masih aktif (kurangi kontak).
  • Mungkin belum menerima perpisahan sebagai kenyataan.

Penutup

Kemampuan kembali tanpa kamu usahakan. Izin itulah yang layak diusahakan sekarang.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.