dip
Belikan Kopi
A Year And Beyond

Sabtu saat kamu sadar bahwa ini hidup yang baik

By the dip team · 11 menit baca

Sabtu saat kamu sadar bahwa ini hidup yang baik

Tahap 3 · Setahun dan seterusnya · Artikel 56 · Wave 1 · Tonggak perpustakaan · Lembut di beberapa bagian


Kamu sedang melipat baju. Itulah kejutan kecilnya: momen itu tidak datang saat matahari terbenam, atau di tengah jalan-jalan di suatu tempat yang bermakna, atau di lokasi mana pun yang biasanya dijadikan latar oleh tulisan tentang hidup setelah perpisahan untuk meletakkan saat-saat pencerahannya. Momen itu terjadi di kamar belakang, tempat kamu menyeret keranjang itu karena ruang tamu terlalu terang dan hangat, dan kamu ingin berada di kamar belakang yang lebih gelap dan lebih sejuk dan lebih cocok untuk melipat sprei, pada satu Sabtu sore yang sudah dimulai, berjam-jam sebelumnya, tanpa apa pun dalam jadwal, dan kini berakhir dengan keadaan yang sama.

Radio menyala di suatu sudut lain rumah, melakukan apa yang biasa dilakukannya, anak-anak di rumah Co-Parent untuk akhir pekan, anjing tidur di ambang pintu, segelas minuman yang baru habis separuh tergeletak di lantai di sebelahmu, dan sebuah podcast mengalun dari speaker di pojok, yang sudah berhenti kamu dengarkan dua puluh menit sebelumnya tanpa repot-repot mematikannya.

Kamu sedang melipat sprei ketiga ketika pikiran itu datang, bukan persis sebagai pikiran melainkan lebih sebagai sejenis pengakuan, dengan cara sebagian informasi tiba di tubuh lebih dulu sebelum tiba di bahasa: ini hidup yang baik.

Bukan aku baik-baik saja, bukan aku sudah move on, bukan aku sudah pulih, melainkan sesuatu yang secara khusus berbeda dari semua itu, dan itulah yang dibahas tulisan ini. Ini hidup yang baik, diucapkan dalam bentuk kini, tanpa membandingkannya dengan yang dulu, tanpa permintaan maaf kepada pernikahan yang kamu tinggalkan, tanpa izin yang diminta dari siapa pun yang dulu pernah bilang bahwa keadaan akan membaik dan memang berniat baik, tapi juga menganggap membaik itu berarti kembali ke sesuatu.

Pengakuan itu kecil dan tidak dramatis, dan kamu tidak menceritakannya kepada siapa pun selama beberapa hari. Ketika akhirnya kamu cerita, itu kepada seorang teman, dalam komentar yang lewat begitu saja, dan kamu menyebutnya seakan-akan bukan apa-apa. Tapi kamu mengingatnya.

Ini tulisan tentang Sabtu itu. Tentang bagaimana pengakuan itu datang, tentang mengapa ia cenderung muncul di tempat-tempat biasa, dan tentang apa yang berubah, perlahan-lahan, setelah kamu mengalaminya.

Pagi di Sabtu yang dimaksud

Sabtu itu dimulai cukup biasa. Kamu bangun sekitar pukul tujuh di rumah yang anak-anaknya sudah tidak ada, karena mereka sudah dijemput sore sebelumnya untuk akhir pekan yang lebih panjang di rumah Co-Parent. Kamu membuat kopi, memakan roti panggang yang kamu mau dengan mentega yang kamu suka, dan membaca sesuatu di ponsel di dapur yang sudah jadi dapurmu selama hampir dua tahun saat itu. Cerek mendidih lagi entah kapan karena kamu lupa pada cerek pertama tadi saat sedang mengerjakan hal lain.

Tidak ada rencana untuk hari itu, dan itu tidak masalah, karena pada titik ini dalam hidupmu yang sudah berpisah, kamu sudah berhenti merasakan panik kecil yang dulu suka menempel pada Sabtu yang kosong dari jadwal. Panik itu, di tahun pertama, adalah soal kehampaan, dan kehampaan itu harus diisi karena di situlah kehilangan tinggal. Menjelang tahun kedua, kehampaan itu sudah menipis, dan menjelang bulan kesembilan belas atau kedua puluh atau di titik mana pun kamu berada pada Sabtu ini, kehampaan itu sebagian besar sudah berubah menjadi ruang, yang merupakan hal yang sama sekali berbeda. Ruang menopangmu, bukan mengancam menelanmu.

Kamu pergi jalan-jalan sebentar di pagi hari, membeli beberapa barang di toko, lalu menelepon panjang dengan seseorang yang kini jadi temanmu dengan cara yang tidak ada sebelum perpisahan. Perpisahanmu membuatmu terbuka pada persahabatan yang dulu tak mungkin kamu masuki di dalam pernikahan, yang dulu menata perhatianmu secara berbeda. Telepon itu terasa ringan dengan cara telepon menjadi ringan setelah setahun mengerjakan tugasnya, kalian berdua tertawa untuk berbagai hal, tak satu pun dari kalian kembali ke pernikahan atau ke Co-Parent atau ke topik mana pun yang dulu, di tahun pertama, jadi pusat yang tak terhindarkan dari setiap telepon panjang. Sebaliknya, kalian membahas sesuatu yang dikatakan seorang rekan kerja, sebuah buku yang sedang dibaca temanmu, dan apakah kalian akan mengambil liburan yang kalian berdua, secara terpisah, sama-sama sedang pertimbangkan.

Kamu pulang, membuat makan siang, dan menyantapnya sambil duduk di meja dapur membaca buku yang sempat muncul dalam telepon tadi. Kamu mulai mencuci baju sekitar pukul dua karena baju itu sudah perlu dicuci sejak beberapa hari, dan kamu ingin menyelesaikannya sebelum anak-anak pulang Minggu sore, saat kepulangan mereka punya tekstur tersendiri yang tak ingin kamu encerkan dengan pekerjaan rumah.

Tidak ada satu pun dari ini yang, sekilas, istimewa. Tidak ada satu pun dari kegiatan ini yang akan bertahan kalau diceritakan kepada orang asing sebagai bukti apa pun selain satu Sabtu tenang yang dijalani sendirian. Tapi teksturnya, diambil sebagai satu keseluruhan, itulah yang menghasilkan pengakuan di kamar belakang tiga jam kemudian. Tekstur itulah intinya.

Apa yang harus benar dulu agar pengakuan itu bisa terjadi

Ada beberapa hal tertentu yang harus berada di tempatnya, dan tak satu pun di antaranya ada setahun yang lalu.

Yang pertama, kamu harus bisa sendirian di rumahmu sepanjang hari tanpa kesendirian itu memicu semacam keadaan darurat tingkat rendah di sistem sarafmu. Di bulan keempat, Sabtu yang persis sama ini akan terasa tak tertanggungkan, rumah kosong itu berdengung dengan ketiadaan anak-anak dan ketiadaan pernikahan dan ketiadaan sosok dirimu sebelum menikah yang entah kapan terselip dan hilang di usia dua puluhanmu. Menjelang bulan kedua puluh, rumah kosong yang sama itu hanyalah rumah kosong, menopangmu sementara kamu mencuci baju.

Yang kedua, jeda-jeda dalam satu hari, celah-celah di antara kegiatan, harus terasa seperti istirahat, bukan seperti ditinggalkan. Jalan-jalan yang berakhir tanpa kewajiban menanti dulu mendarat sebagai sejenis kesepian di tahun pertama. Menjelang Sabtu itu, jalan-jalan yang berakhir tanpa kewajiban justru mendarat sebagai kebebasan jenis tertentu, kebebasan yang kamu habiskan sepanjang tahun kedua perpisahanmu untuk belajar mengenalinya dan memercayainya.

Yang ketiga, hubungan-hubungan dalam hidupmu harus sudah dipangkas hingga tinggal yang benar-benar cocok dengan hidupmu sekarang. Sebagian persahabatan pergi sepanjang tahun pertama, yang waktu itu menyakitkan dan yang sejak itu sudah kamu catat, dalam pembukuan batinmu sendiri, sebagai harga dari berubahnya struktur. Persahabatan lain ditambahkan diam-diam, yang juga menuntut usaha dan waktu. Menjelang Sabtu itu, orang-orang yang kamu ajak bicara di telepon atau temui langsung adalah orang-orang yang mengenalmu dalam bentukmu yang sekarang, bukan dalam bentukmu yang dulu. Ini hal struktural kecil tentang hidupmu yang butuh bertahun-tahun untuk dirakit dan yang biasanya baru kamu sadari setelah ia selesai dengan sendirinya.

Yang keempat, dan ini yang lebih sulit diungkapkan, kamu harus sudah berhenti menjalankan beberapa perhitungan di latar belakang: perhitungan tentang apakah kamu sudah mengambil keputusan yang tepat saat mengakhiri pernikahan, atau apakah keputusan yang tepat itu justru diambil untukmu, atau apakah versi dirimu di dalam pernikahan adalah versi yang lebih baik, atau apakah anak-anak akan baik-baik saja dalam rentang panjang, atau perhitungan lain mana pun yang dijalankan tanpa henti oleh tahun pertama perpisahan. Menjelang tahun kedua, perhitungan-perhitungan ini sudah mereda, bukan karena kamu sudah menjawabnya, tapi karena kamu sudah berhenti menanyakannya.

Sebuah hidup yang perhitungan-perhitungannya sudah mereda adalah jenis hidup yang berbeda dari hidup yang perhitungan-perhitungannya masih berjalan, dan pengakuan di kamar belakang itu, dalam satu arti, adalah pengakuan terhadap keheningan tersebut. Ruang di kepalamu sudah lapang. Kini ada tempat, di ruang itu, untuk hal-hal seperti melipat sprei ketiga.

Mengapa ia cenderung datang di tempat-tempat biasa

Hampir tidak ada orang yang mengalami pengakuan ini hidup yang baik saat matahari terbenam. Matahari terbenam terlalu jelas sebagai sebuah momen, dan pikiran, ketika disuguhi matahari terbenam, tahu bahwa ia seharusnya merasakan sesuatu. Apa pun yang dihasilkannya sebagai respons akan jadi pertunjukan, sekalipun pertunjukan itu bersifat pribadi dan sepenuhnya untuk dirinya sendiri.

Pengakuan itu butuh momen tanpa penanda untuk bisa datang: melipat baju, membeli tomat, duduk sebentar di dalam mobil yang terparkir sebelum masuk rumah karena ada sesuatu di radio yang ingin kamu selesaikan. Momen tanpa penanda itu tidak meminta apa pun dari pikiran, yang artinya pikiran sedang lengah, yang artinya pengakuan itu bisa menyelinap masuk dari sisi-sisi lalu lintas mental yang biasa.

Inilah juga sebabnya orang yang sengaja pergi mencari pengakuan itu cenderung tidak menemukannya. Memesan perjalanan ke pantai, mengambil libur panjang khusus untuk menemukan ketenangan, membuat janji dengan terapis untuk menuntaskan fase setelah perpisahan: semua pengaturan ini memberi sinyal kepada pikiran bahwa sesuatu seharusnya terjadi, dan pikiran, dengan patuh, menyiapkan diri untuk mengalami sesuatu itu. Persiapan itu sendirilah yang menghalangi pengakuannya. Pengakuan itu pemalu.

Yang bisa kamu lakukan, untuk membuat pengakuan itu lebih mungkin datang tanpa pergi mencarinya, adalah terus menata kondisi tempat ia mungkin muncul. Jalani Sabtu jenis yang bisa membuka peluang itu, bangun hidup yang punya momen-momen tanpa penanda di dalamnya, berhenti menjadwalkan setiap menit waktu luangmu menjadi sesuatu yang seharusnya memberi pengalaman, sisakan ruang. Pengakuan itu akan datang ketika ia datang, di kamar belakang, sekitar sprei ketiga, saat kamu sedang tidak memperhatikan.

Apa yang dilakukan pengakuan itu, dan apa yang tidak

Pengakuan itu tidak mengubah hidupmu. Itu perlu disebut, karena selama beberapa jam sesudahnya kamu mungkin percaya bahwa ia sudah mengubah hidupmu, bahwa ada sesuatu yang bergeser, bahwa babak baru sudah dimulai. Belum. Pengakuan itu adalah informasi tentang sebuah hidup yang memang sudah ada di sana, dan hidup itu akan terus menjadi dirinya. Minggu tetap akan ada anak-anak yang pulang, antar-jemput sekolah Senin pagi tetap akan jadi antar-jemput sekolah, dan pertanyaan-pertanyaan soal keuangan tetap akan jadi pertanyaan-pertanyaan soal keuangan. Tidak ada satu pun darinya yang berubah.

Yang dilakukan pengakuan itu adalah menanam sebuah penanda. Begitu kamu mengalaminya, kamu memilikinya, dan ia bergabung dengan kumpulan kecil hal-hal yang kamu ketahui tentang dirimu yang tidak perlu dibuktikan ulang setiap minggu. Aku jenis orang yang, pada satu Sabtu di bulan kedua puluh, sedang melipat baju di kamar belakang dan menyadari bahwa ini hidup yang baik. Kalimat itu menjadi sekeping bukti permanen dalam catatan batinmu, dan kamu bisa kembali kepadanya. Pada hari-hari saat keraguan datang lagi, dan ia memang akan datang, kamu bisa berpikir iya, tapi Sabtu dengan cucian itu memang terjadi, dan pengakuan itu memang nyata, dan keraguan hari ini tidak membatalkannya. Pengakuan itu adalah pancang yang ditanam ke dalam tanah. Keraguan masih bisa datang, tapi keraguan tidak bisa menggeser pancang itu.

Pengakuan itu juga melakukan satu hal yang lebih senyap, yang butuh waktu lebih lama untuk disadari. Ia mengalibrasi ulang hubunganmu dengan masa depan. Sebelum pengakuan itu, kamu memperlakukan masa depan sebagai sesuatu yang harus dituju, sebuah tujuan tempat hidup yang baik mungkin pada akhirnya bisa dirakit. Setelah pengakuan itu, masa depan menjadi sesuatu yang dijalani, karena hidup yang baik sudah ada di sini dan masa depan hanyalah lebih banyak dari itu. Pergeseran sikap itu kecil tapi awet. Kamu berhenti meregang ke arah sesuatu. Kamu mulai merawat apa yang kamu miliki.

Versi yang lebih berat dari pengakuan itu

Ada versi lain dari tulisan ini untuk para orang tua yang perpisahannya penuh permusuhan, atau yang Co-Parent-nya masih bergulat, atau yang punya urusan hukum yang berkepanjangan atau kerentanan keuangan atau seorang anak yang sedang melewati masa sulit. Bagi orang tua itu, Sabtu di kamar belakang itu mungkin belum terjadi, dan mungkin belum akan terjadi untuk sementara waktu.

Kalau itu posisimu sekarang, tulisan ini tetap berlaku, dengan satu tambahan. Sabtu itu akan datang, dan ia akan datang lebih lambat dibanding bagi orang tua yang perpisahannya lebih mudah. Kedatangannya mungkin harus terjadi di sela-sela kesulitan yang masih aktif, bukan setelah semua kesulitan reda, karena bagi sebagian orang tua, kesulitan yang aktif itu tidak pernah benar-benar reda sepenuhnya. Pengakuan itu bisa terjadi di dalam hidup yang sulit. Ia terjadi pada orang-orang dalam hidup yang sulit setiap saat. Pengakuan itu bukan ketiadaan masalah, melainkan kehadiran hidup di dalam masalah, dan hidup di dalam masalah adalah sesuatu yang dihasilkan tubuh dengan atau tanpa izin dari masalah itu.

Kalau kamu sedang membaca tulisan ini dan Sabtu itu belum terjadi, langkah yang tepat bukanlah putus asa, melainkan terus melakukan apa yang sedang kamu lakukan, perlahan-lahan, dan terus menata kondisi tempat pengakuan itu bisa datang. Lipatan itu akan terjadi. Cahaya akan jatuh dengan cara tertentu. Sesuatu akan mendarat.

Kembali ke kamar belakang

Kamu menyelesaikan sprei ketiga, lalu yang keempat, yaitu sarung selimut yang butuh dua tangan dan sedikit kesabaran. Kamu melipatnya menjadi persegi dan meletakkannya di atas sprei-sprei lain yang sudah terlipat. Kamu memandang tumpukan baju yang sudah dilipat itu, yang rapi dan tidak mencolok, dan menyadari bahwa kamu sudah tersenyum tipis selama beberapa saat tanpa menyadarinya.

Kamu mengangkat tumpukan baju itu dan membawanya ke lemari linen, tempat kamu menaruhnya di rak bersama linen yang lain. Lalu kamu kembali ke kamar belakang dan mengambil gelas dan keranjang itu, membawa keranjang ke ruang cuci dan gelas ke dapur, tempat kamu membilasnya dan menaruhnya di rak tiris karena kamu belum ingin mencucinya benar-benar.

Pengakuan itu menemanimu sepanjang sore itu, dengan cara sebagian kabar menetap. Kamu tidak menceritakannya kepada siapa pun, dan kamu tidak yakin kepada siapa kamu akan bercerita atau apa yang akan kamu katakan. Teman yang kamu ajak bicara pagi tadi pasti akan paham, tapi itu butuh pengantar yang panjang, dan kamu sedang tidak ingin menyusun pengantar itu. Kamu duduk di ruang tamu sebentar dengan buku itu, anjing berpindah ke karpet di sebelahmu, radio masih menyala, dan cahaya di luar perlahan berubah dengan cara sore-sore Sabtu berlalu.

Sekitar pukul enam kamu mulai memikirkan makan malam, meski kamu belum merencanakan apa pun yang spesifik. Akhirnya kamu membuatkan diri sendiri hal sederhana yang biasa kamu buat saat sedang malas repot dengan masakan yang serius, yang pakai nasi dan sayur dan telur di atasnya, dan kamu menyantapnya di meja dapur sambil membaca buku. Menjelang waktu tidur malam itu, kamu sudah berhenti memikirkan pengakuan itu secara sadar, tapi ia masih ada di sana, melakukan kerja pemasangannya yang senyap di latar belakang.

Beberapa bulan kemudian, kamu akan merujuk kepadanya secara tidak langsung, dalam percakapan dengan teman yang lain, ketika obrolan beralih ke apakah kamu baik-baik saja. Kamu bilang iya, kayaknya aku punya hidup yang baik sekarang, dan teman itu mengangguk, dan obrolan berlanjut ke hal lain. Teman itu mungkin tidak menyadari bahwa kalimat itu berbeda dari kalimat-kalimat yang dulu biasa kamu produksi sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut. Tapi kalimat itu memang berbeda. Aku punya hidup yang baik dalam bentuk kini, tanpa syarat, tanpa pengandaian, tanpa perbandingan.

Sabtu di kamar belakang itu sudah menanam sebuah kalimat yang kini bisa kamu ucapkan tanpa menyertainya dengan pengandaian. Itulah yang dilakukan Sabtu itu.

Penutup

Pengakuan itu tidak datang di tempat yang besar. Ia datang di kamar belakang, sekitar sprei ketiga, saat kamu sedang tidak memperhatikan. Ia tidak mengubah hidupmu; ia memberitahumu tentang sebuah hidup yang memang sudah ada di sana. Dan begitu kamu mengalaminya, kamu memilikinya, sebuah pancang yang ditanam ke dalam tanah yang tak bisa digeser oleh keraguan. Hidup yang baik bukan sesuatu yang kamu rakit saat matahari terbenam. Ia sesuatu yang kamu temui di tengah pekerjaan biasa sehari-hari, saat kamu sedang tidak mencarinya.

Hidup yang baik adalah sesuatu yang kamu lipati bajunya dari dalam, bukan sesuatu yang kamu rakit saat matahari terbenam.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.